Ezra dan Andri Syahputra, Dua Cerita yang Berbeda

Ezra Walian, lengkapnya, Ezra Harm Ruud Walian adalah pemain sepak bola keturunan Indonesia yang bermain untuk tim Jong Ajax dengan posisi penyerang tengah. Ezra lahir dari ayah yang berasal dari Manado dan ibunya merupakan warga negara Belanda. Ezra menjadi sorotan karena tanpa keraguan memutuskan siap membela tim nasional Indonesia, dan telah melakukan debutnya bulan lalu. Sebuah langkah yang patut diapresiasi karena sebenarnya, karir Ezra di Jong Ajax cukup baik, sehari yang lalu (3 April 2017), Ia bahkan mencetak dua gol ke gawang lawan dalam lanjutan Jupiler League, divisi yang levelnya tepat berada satu tingkat di bawah liga utama Belanda. Penggila sepak bola tentu paham bahwa Jong Ajax telah menelurkan puluhan pemain handal yang bahkan menjadi pemain kelas dunia, seperti skuad Ajax ketika menjadi juara UCL beberapa dekade yang lalu. Poinnya adalah Ezra berada di dalam jalur yang benar, yang bahkan memungkinkannya dilirik oleh klub besar eropa dan dipanggil oleh timnas Belanda. Namun Ia telah memutuskan memilih membela tim garuda. Di belahan benua lainnya, benua Asia, di Qatar lebih tepatnya, seorang pemain kelahiran Kota Lhokseumawe, Indonesia bernama Andri Syahputra sedang merintis karir sepakbolanya di sana. Bermain bersama Aspire Football Academy, semacam Diklat Salatiga atau Diklat Ragunan di Indonesia, Andri bermain gemilang dan menonjol dalam timnya. Tentu sebuah kebanggaan ketika mendengar kabar positif dari putra bangsa terlebih di negara lain. Kabar tak sedap mulai muncul ketika beberapa bulan yang lalu, Andri melalui ayahnya tidak dapat menghadiri panggilan PSSI untuk mengikuti seleksi pembentukan tim nasional Indonesia U-19 guna persiapan mengikuti AFF Cup U-18. Ketika kabar itu mulai tersebar ke masyarakat, berbagai respon negatif meluncur ke akun media sosial Andri, serangan netizen begitu gencar ketika itu, mempertanyakan dimana nasionalisme Andri, masih kah Ia ingat tanah kelahirannya. Kontroversi tidak hanya berhenti disana, beberapa hari yang lalu, suasana semakin panas ketika dalam sebuah laga persahabatan antara timnas Qatar junior melawan Inggris, muncul nama Andri di skuad Qatar, bahkan Ia bermain dua kali, bersama timnas Qatar U-18 dan U-19. Andri yang ketika itu mengenakan kostum dengan nomor punggung 20 mendapatkan pujian dari federasi sepakbola Inggris, FA, dalam situs resminya, dengan menyebutkan Qatars Andri Syahputra looked dangerous as he charged at the England back four.. Kabar ini seakan mengkatalisasi kemarahan para stakholderssepak bola Indonesia, dari mulai Kementerian Pemuda dan Olahraga RI sampai para masyarakat Indonesia khususnya para pecinta sepakbolanya. Kemenpora dikabarkan kemudian berkoordinasi dengan Kedutaan RI di Qatar untuk mengkonfirmasi status kewarganegaraan Andri. Sedangkan ratusan ribu bahkan jutaan netizen menyerang akun medsos Andri dengan tuntutan agar Andri menghapus kata Indonesia dari akunnya. Kedua fakta pemain ini menjadi contoh bagaimana dampak social amplification sangat kuat, di satu sisi, pada cerita Ezra, social amplification memberikan dampak yang positif, dimana cerita indah Ezra menyebar dengan cepat keseluruh penjuru negeri, menggerakkan hati masyarakat Indonesia untuk positif melihat masa depan timnas Indonesia. Di sisi lain, Andri merupakan korbansocial amplificationdalam efek yang negatif. Kabar penolakannya, yang diikuti dengan pengkhianatannya dengan bergabung dengan timnas Qatar, tersebar begitu cepat, yang tidak diimbangi dengan informasi yang berimbang dari berbagai pihak, misalnya dari Kemenpora maupun PSSI. Karena seharusnya, karena isu ini menyangkut tentang hal fundamental sebagai warga negara, yaitu nasionalisme, rasanya tidak dapat dilepaskan begitu saja dari tanggungjawab government-nya. Seharusnya, PSSI atau Kemenpora mengimbangi kabar yang beredar dengan langsung berkoordinasi dengan Andri, atau ayahnya, untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya, tanpa distorsi dari berbagai pihak. Memang pada akhirnya pihak pemerintah telah berkoordinasi, tapi pengadilan media sosial sudah kadung menghakimi Andri, secara wajah dunia mayanya, Ia sudah hancur lebur. Tentu tidak dapat dipungkiri, pihak Andri pun juga berperan atas serangan tersebut karena tidak terlihat secara tegas apakah Ia ingin membela timnas Indonesia atau justru Qatar, atau, Ia memang sebenarnya belum bisa mengambil keputusan. Namun seharusnya, ada statement khusus darinya tentang ini. Berkaca pada hal serupa yang terjadi pada Emilio Audero Mulyadi, penjaga gawang muda Juventus yang denga tegas menolak membela Indonesia, Ia dengan tegas menampik tawaran tersebut. Setelah beberapa hari menerima kritik pedas, masalah kemudian selesai. Kesimpulan yang dapat diambil dari kedua cerita ini sebenarnya adalah, membela tim nasional adalah panggilan jiwa, adalah tentang hati, tentang kecintaan. Namun, melihat kondisi persepakbolaan Indonesia saat ini yang sedang berusaha bangkit dari sakit parahnya, memang tidak mudah meyakinkan pemain Indonesia terutama yang sedang merintis karir di luar negeri untuk kembali, meskipun hanya untuk mengikuti seleksi. Poinnya adalah seharusnya pihak pemerintah dapat mengimbangi informasi, toh mereka memiliki akses untuk itu, sehingga ada keseimbangan berita. Bagaimana jika jangan-jangan benar Andri hanya butuh waktu untuk memutuskan kapan akan berjuang bersama timnas Indonesia, bagaimana jika ini hanya soal waktu yang tidak tepat, namun vonis sudah terlanjur ditetapkan dari kita. Semoga meskipun kedua cerita ini berbeda kadarnya, pada akhirnya akan memberikan nilai positif bagi sepakbola Indonesia, dan tentu saja tim nasionalnya, Garuda!!!.

thesteelersjerseysshop.com bola228 Sumber: Kompasiana